Monday, April 28, 2014

Try to Fly

#on sms conversation
RY : Weekend minggu ini mau ngapain Cit?
Me : Mau main Paragliding di Puncak
RY : Apalagi tuh Cit? Bedanya apa sama Paralayang?
Me : Apa ya bedanya? Ga tau dah. Sama aja kayanya :p
*penasaran, trus browsing

Jadiiiiiiiiii....sebenarnya Paralayang dan Paragliding  adalah sama. Dalam bahasa Indonesia disebut Paralayang, dan dalam bahasa Inggris disebut Paragliding. Gitu doang? Iya.
Kalau ngga percaya, coba tanya Om Gugel atau Wikipedia deh.

Nih aku copas..

Paragliding adalah olahraga terbang bebas dengan menggunakan sayap kain (parasut) yang lepas landas dengan kaki untuk tujuan rekreasi atau kompetisi. Induk organisasinya adalah PLGI (Persatuan Layang Gantung Indonsia), sedangkan PLGI sendiri dibawah naungan FASI (Federasi Aero Sport Indonesia)
Olahraga paralayang lepas landas dari sebuah lereng bukit atau gunung dengan memanfaatkan angin. Angin yang dipergunakan sebagai sumber daya angkat yang menyebabkan parasut ini melayang tinggi di angkasa terdiri dari dua macam yaitu, angin naik yang menabrak lereng (dynamic lift) dan angin naik yang disebabkan karena thermal (thermal lift). Dengan memanfaatkan kedua sumber itu maka penerbang dapat terbang sangat tinggi dan mencapai jarak yang jauh. Yang menarik adalah bahwa semua yang dilakukan itu tanpa menggunakan mesin, hanya semata-mata memanfaatkan angin.

Sebenarnya dibandingkan menyelam atau mendaki gunung, peralatan paralayang masih bisa dibilang ringan, berat seluruh perlengkapannya (parasut, harness, parasut cadangan, helm) sekitar 10 - 15 kg. Peralatan paralayang juga sangat praktis karena dapat dimasukkan ke dalam ransel yang dapat digendong di punggung. Tapi memang wujud ranselnya itu lebih besar dari keril.
Perlengkapan untuk paralayang meskipun ringan bisa saya bilang lumayan ribet. Selain yang disebutkan diatas ada perlengkapan pendukung terbang yang diperlukan antara lain variometer, radio/HT, GPS, windmeter, peta lokasi terbang, dll. Berhubung saya main paralayang versi tandem, sepertinya operator saya yang memakai semua kelengkapan itu. Saya cukup memperhatikan instruksi dari dia.
Olahraga ini mulai muncul pada sekitar tahun 1950-an dan kejuaraan dunia pertamanya dilangsungkan pada tahun 1989 di Kössen, Austria.
FYI, olahraga ini lumayan menguras kocek. Untuk sekali permainan di lokasi wisata puncak, menghabiskan Rp 400.000. Menurut info, bermain paralayang di daerah Batu-Malang, lebih murah. Sekitar Rp 250.000an. Mungkin lain kali saya akan coba kesana. Hasil ngobrol-ngobrol dengan senior di TKP, untuk mendapatkan sertifikat Glider dari LGI FASI paling tidak kamu harus sudah melakukan (minimal) 100 kali penerbangan.
Tentunya dengan telah menguasai Filosofi paralayang, Teknik dasar paralayang , Teknik mengembangkan parasut, Dasar-dasar meteorology dan Aerodinamika, Teknik mengendalikan parasut di darat, Teknik lepas landas, Teknik manuver sederhana di udara, dan teknik mendarat, Teknik mengatasi keadaan darurat di udara, Teknik membubung/mempertahankan ketinggian. Sementara untuk memiliki gear sendiri setidaknya kamu harus menguras kocek sekitar 15juta-an. Wow. Such an expensive and njelimet kind of sport right? As well,.. You never know until you try....Hohoho... ^_^




No comments:

Post a Comment