#on sms conversation
RY : Weekend minggu ini mau ngapain Cit?
Me : Mau main Paragliding di Puncak
RY : Apalagi tuh Cit? Bedanya apa sama Paralayang?
Me : Apa ya bedanya? Ga tau dah. Sama aja kayanya :p
*penasaran, trus browsing
Jadiiiiiiiiii....sebenarnya Paralayang dan Paragliding adalah sama. Dalam bahasa Indonesia disebut Paralayang, dan dalam bahasa Inggris disebut Paragliding. Gitu doang? Iya.
Kalau ngga percaya, coba tanya Om Gugel atau Wikipedia deh.
Nih aku copas..
Paragliding adalah olahraga terbang bebas dengan menggunakan sayap kain (parasut) yang lepas landas dengan kaki untuk tujuan rekreasi atau kompetisi. Induk organisasinya adalah PLGI
(Persatuan Layang Gantung Indonsia), sedangkan PLGI sendiri dibawah
naungan FASI (Federasi Aero Sport Indonesia)
Olahraga paralayang lepas landas dari sebuah lereng bukit atau gunung
dengan memanfaatkan angin. Angin yang dipergunakan sebagai sumber daya
angkat yang menyebabkan parasut ini melayang tinggi di angkasa terdiri
dari dua macam yaitu, angin naik yang menabrak lereng (dynamic lift) dan
angin naik yang disebabkan karena thermal (thermal lift). Dengan
memanfaatkan kedua sumber itu maka penerbang dapat terbang sangat
tinggi dan mencapai jarak yang jauh. Yang menarik adalah bahwa semua
yang dilakukan itu tanpa menggunakan mesin, hanya semata-mata
memanfaatkan angin.
Sebenarnya dibandingkan menyelam atau mendaki gunung, peralatan paralayang masih bisa dibilang ringan, berat seluruh perlengkapannya
(parasut, harness, parasut cadangan, helm) sekitar 10 - 15 kg.
Peralatan paralayang juga sangat praktis karena dapat dimasukkan ke
dalam ransel yang dapat digendong di punggung. Tapi memang wujud ranselnya itu lebih besar dari keril.
Perlengkapan untuk paralayang meskipun ringan bisa saya bilang lumayan ribet. Selain yang disebutkan diatas ada perlengkapan pendukung terbang
yang diperlukan antara lain variometer, radio/HT, GPS, windmeter, peta
lokasi terbang, dll. Berhubung saya main paralayang versi tandem, sepertinya operator saya yang memakai semua kelengkapan itu. Saya cukup memperhatikan instruksi dari dia.
Olahraga ini mulai muncul pada sekitar tahun 1950-an dan kejuaraan dunia pertamanya dilangsungkan pada tahun 1989 di Kössen, Austria.
FYI, olahraga ini lumayan menguras kocek. Untuk sekali permainan di lokasi wisata puncak, menghabiskan Rp 400.000. Menurut info, bermain paralayang di daerah Batu-Malang, lebih murah. Sekitar Rp 250.000an. Mungkin lain kali saya akan coba kesana. Hasil ngobrol-ngobrol dengan senior di TKP, untuk mendapatkan sertifikat Glider dari LGI FASI paling tidak kamu harus sudah melakukan (minimal) 100 kali penerbangan.
Tentunya dengan telah menguasai Filosofi
paralayang, Teknik dasar paralayang , Teknik mengembangkan parasut, Dasar-dasar
meteorology dan Aerodinamika, Teknik mengendalikan parasut di
darat, Teknik lepas landas, Teknik manuver sederhana di udara, dan teknik mendarat, Teknik
mengatasi keadaan darurat di udara, Teknik membubung/mempertahankan ketinggian. Sementara untuk memiliki gear sendiri setidaknya kamu harus menguras kocek sekitar 15juta-an. Wow. Such an expensive and njelimet kind of sport right? As well,.. You never know until you try....Hohoho... ^_^

No comments:
Post a Comment