Monday, April 21, 2014

5S


 
Ini bukan tentang tipe rumah ya… Super Sangat Sangat Sederhana Sekali.

Ini tentang metode manajemen lingkungan kerja yang asalnya lahir di Negara Jepang. Kalian yang pernah merasakan kerja di perusahaan Jepang khususnya bidang manufaktur mestinya sudah akrab dengan 5S. Saya pun mendapat bekal 5S ini dari perusaahan asal Jepang tempat saya bekerja dulu. Sebuah pabrik yang memproduksi gitar akustik dan elektrik, yang semua orang pasti kenal dengan merknya. Ilmu memang tidak akan menghilang, hanya akan terlupa jika tidak pernah terpakai.

5S sendiri merupakan singkatan dari bahasa Jepang:
·         Seiri ()                 : Ringkas
·         Seiton ()               : Rapi
·         Seiso ()                : Resik
·         Seiketsu ()           : Rawat
·         Shitsuke ()           : Rajin

Penerapannya harus dilakukan secara bertahap dan sesuai urutan.
Secara teori, terlihat mudah dilakukan. Tapi cobalah. Tak semudah kelihatannya, terutama bagi yang baru pertama kali menerapkannya. Jika sudah terbiasa menerapkan 5S di lingkungan kerja, cobalah metode ini dalam kehidupan sehari-hari. Dirumah dan kehidupan pribadi. Recomended bagi kalian yang susah ‘move-on’.

Seiri – dalam teorinya adalah menyingkirkan barang-barang yang tidak diperlukan sehingga segala barang yang ada hanya barang yang benar-benar dibutuhkan. Langsung teringat dengan botol-botol shampo kosong yang masih bertengger di rak dalam kamar mandi? atau koran-koran bekas yang menumpuk? atau bahkan foto mantan yang masih disimpan? Singkirkan.

Seiton – idealnya adalah meletakkan segala sesuatu sesuai posisi yang ‘standar’ sehingga siap digunakan pada saat diperlukan. Selalu lupa dimana meletakkan kunci motor ketika bersiap pergi? Sering merasa kehilangan peniti untuk hijabmu padahal baru sekali dipakai? Coba terapkan ini.

Seiso – bersihkan peralatan dan daerah kerja sehingga segala peralatan kerja tetap terjaga dalam kondisi yang baik. Coba cek dapurmu atau meja riasmu. Boleh juga pikiran dan hatimu. (ehem..)

Seiketsu – yaitu menjaga kebersihan pribadi sekaligus mematuhi ketiga tahap sebelumnya. Foto mantan yang udah dibuang-buangin, ga usah dikangenin lagi dengan stalking-in fesbuknya. Kalau sudah sedia wadah khusus untuk peniti, ya jangan taruh sembarangan lagi. Kalau sudah terbiasa langsung mencuci alat masak setelah dipakai…bagus banget tuh. Tandanya kita tinggal menjaga semua tetap bersih dengan konsisten pada tiga tahap diatas.

Shitsuke – disiplin untuk mengulang/menjalankan seluruh tahap 5S.

Simpel kan?

Intinya adalah fokus pada tujuan dengan tidak terlalu banyak pertimbangan yang pada akhirnya bisa menghambat kemajuan itu sendiri. Terdengar seperti kalimat klasik yang agak basi. Tapi tetap saya pegang. Bahkan untuk memutuskan prioritas antara kebutuhan dan keinginan, saya masih memakai analogi ini :
 
Ketika kita berniat membuang barang-barang bekas, fokuslah pada  apa yang masih kita butuhkan. Jangan berlama-lama membuka-buka majalah lama dan membacanya kembali. Bayangkan jika tumpukannya setinggi satu meter. Kapan kita akan menyelesaikan ‘misi’ tersebut? Sama halnya ketika kita memiliki misi untuk ‘move-on’ dari sang mantan. Entah itu mantan pacar, mantan teman, mantan bos atau mantan musuh. Lupakan dan buang jauh-jauh semua citra mereka di masa lalu dalam pikiranmu. Everybody changed kalo kata lagunya Keane. Kata siapa perasaan dengan manusia tidak bisa disamakan dengan barang. Semua tergantung pada perspektif pribadi itu sendiri, dan hal yang paling penting ketika kita berhadapan dalam situasi sulit adalah, tidak ada yang tidak mungkin, dan tidak ada yang sia-sia.
Tenang saja, toh hati kita ini buatan Tuhan, bukan buatan Cina :D Hehe..

So,.. 5S for your daily life? Why not?


No comments:

Post a Comment