Ada yang kenal sama yang namanya
buah Kawis? Saya kenal dia pertama kali dengan sebutan buah Batok, dan justru
saya pertama kali kenal nama Kawis dari keponakan saya. Bukan karena dia yang
memperkenalkan nama buah Kawis itu, tetapi justeru Kawis adalah nama keponakan
saya. Hal itu bikin saya langsung teringat kepala plontosnya setiap kali ada
yang mengungkit buah Kawis. Hahaha.. :D
Di Rembang, buah ini memang
dikenal dengan nama Kawis, tapi di Aceh buah ini disebut buah Batok. Di Aceh buah
ini digunakan sebagai bahan campuran bumbu rujak dan sirup. FYI, saya lahir di
Aceh (pantesan ngga kenal Kawis, tapi Batok)
Namanya adalah buah Kawista. Buah
ini (konon) berasal dari India kemudian menyebar ke daerah Asia termasuk
Indonesia. Pohonnya termasuk langka karena di Indonesia sendiri sangat jarang
ada yang membudidayakan Pohon Kawista. Mungkin karena pertumbuhannya yang
sangat lambat, dari mulai menanam sampai bisa menikmati buahnya, diperlukan
waktu sekitar 10 sampai 15 tahun.
Kalau kata Wikipedia, buah Kawista
ini punya nama latin Limonia acidissima syn. Feronia
limonia. Masih ada kerabat sama
jeruk-jerukan (untung bukan kerabatnya ‘cabe-cabean’ atau ‘terong-terongan’). LoL
Buahnya bisa diolah macam-macam, tapi saya baru pernah coba makan buah langsung dan minum sirupnya. Saya tidak pintar menerjemahkan soal rasa. Pokonya buah ini punya wangi dan rasa yang khas, yang bisa bikin ‘nagih’ dan ‘ngidam’ (seperti yang saya rasakan sekarang).
Buahnya bisa diolah macam-macam, tapi saya baru pernah coba makan buah langsung dan minum sirupnya. Saya tidak pintar menerjemahkan soal rasa. Pokonya buah ini punya wangi dan rasa yang khas, yang bisa bikin ‘nagih’ dan ‘ngidam’ (seperti yang saya rasakan sekarang).
Mungkin bagi yang baru pertama kali melihat wujud buah Kawista ini,
akan mengernyit dahi. “Apa iya ni buah bisa di konsumsi?” ya, kira-kira begitu
komentar saya waktu lihat buah Kawista waktu kecil. Namanya juga buah Batok,
kulitnya macam tempurung kelapa, keras sekali. Bagaimana mengupasnya?
Dibanting. Ya!, Dibanting! Supaya pecah. Hahahahaha…. . Nah, sudah dibanting
dan terbuka pun, saya masih sangsi bagian mana yang bisa dimakan. Dagingnya coklat
kehitaman, banyak serabut-serabut dan bertabur biji-biji. Sekali lagi, saya
tidak pintar menerjemahkan rasa. Pokonya saya suka. Ngangenin.
Masa sih ada buah yang ngga bermanfaat? Ya pasti ada manfaatnya lah. Kalau
dikonsumsi sebagai sirup manfaatnya bikin hati senang, karena rasanya
mirip-mirip cola tanpa soda. Merk sirup kawis yang saya tau cuman ‘Dewa Burung’.
Mantap rasanya. Sebutannya The Cola Java. Nah, kalau buahnya dikonsumsi langsung,
manfaatnya lebih banyak lagi. Dalam 100 gram daging buah Kawista ini mengadung
70-an gram air, 8 gram protein, 1.5 gram lemak, 7.5 gram karbohidrat, asam
nitrat serta kalsium dan zat besi. Kata artikel, buah ini bisa bermanfaat untuk
menurunkan panas, mengatasi mual-mual. Sedangkan kulit dari batang pohonnya
bisa digunakan sebagai campuran ramuan jamu untuk mengatasi masalah haid yang
berlebihan, meringankan penyakit gangguan hati, juga bisa untuk mengobati luka
garukan akibat digigit serangga.
Penasaran? Silahkan hunting buah atau sirupnya di daerah Rembang (Aceh
kejauhan ya cyin?), karena di Jakarta bisa dipastikan sangat langka penjualnya. Happy Hunting! ;)

No comments:
Post a Comment