Sunday, June 22, 2014
Surat untuk Bintang
Kau begitu mengagumi Mataharimu itu rupanya
Tidakkah kau sadar Matahari tak diciptakan hanya untuk seorang?
Wahai Bintang
Kau menganguminya bahkan hingga kau lupa dirimupun Bintang
Yang sinarnya hanya akan tergilas Matahari dikala siang
Matahari diciptakan untuk dielu-elukan semua orang
Bukan untuk mendampingi bergandengan tangan
Tanpamu siang tetap dikuasai Matahari
Maka mengapakah tak kau bangun sinarmu sendiri?
Ayolah, engkau sang Bintang mampu bersinar tanpa Matahari
Ciptakan langit malam indahmu bersama Bulan
Jika sekali waktu kau merindukan Matahari
Tataplah pantulan cahayanya diwajah Rembulan
Biarkan semesta tau siapa engkau seutuhnya
Semesta mencintaimu Bintang
Thursday, June 19, 2014
Matahari, Bulan dan Gerhana
Dia bernama Matahari
Yang terbitnya mempesona dan begitu dinanti para pemburu
Yang tenggelamnya membawa kesan romantis dan begitu dramatis
Menerangimu kemana saja dan kapan saja
Begitu silau kecantikannya hingga takkan sanggup kau lihat lidah-lidah apinya
Ketidakhadirannya takkan pernah dipersalahkan
Kawanan awanlah yang jadi pelampiasan
Dia bernama Bulan
Hanya setiap selang dua minggu kau bisa menjumpainya bersinar penuh
Itupun jika awan mendung tidak bertamu
Tak semua orang sempat menatap keatas langit kala malam
Ia datang dan pergi tergantung kehendak Matahari
Dan ketika begitu dekat denganmu kau bahkan bisa melihat betapa buruk wajahnya
Dunia tau Bulan akan selamanya menjadi bayang-bayang sang Matahari
Ialah Gerhana
Jika salah satu dari mereka berkeras hadir dalam waktu yang bersamaan
Merusak kewajaran dan rutinitas alam
Maka Bulan ditakdirkan untuk dicintai para orang malam yang membicarakan terang
Yang mampu bersabar menunggu demi penampilan terbaik sang purnama
Sehingga Matahari diperuntukkan bagi mereka yang gemar terlihat
Yang percaya Mataharinya tak mungkin meredup tanpa ulah siapa
Friday, June 6, 2014
aku tak ingat waktu pernah memberiku janji untuk menjawab semua tanya dan masalahku
dia berjalan sendiri tanpa henti meski aku sempat beristirahat beberapa saat
adakalanya dunia lain yang tak bisa kupijak mengirimkan bayang-bayang menyerupai nyata
aku anggap saja itu bunga tidur yang tidak perlu kufikirkan berat-berat maknanya
tapi sesampainya disuatu masa makna bunga tidur itu menjadi semacam dejavu
sungguh aku tak berani mengaggap Tuhan memberiku anugerah sespesial itu
dan terlebih ketentuanNya tak boleh ada yang mendahului dengan dalih apapun
maka apa yang harus kuperbuat kini?
menunggu waktu bergulir menghantarkanku kepada kenyataan
atau mengambil arah dan langkah atas dasar sebuah mimpi tanpa garansi
ya Tuhan hamba butuh solusi...
Boleh Tanya?
Permisi...
Boleh Tanya?
Seandainya suatu hari kamu mendapatkan suatu hal yang kamu impi-impikan
Kira-kira siapa orang yang pertama kali akan kamu kasih tau?
Seandainya suatu hari kamu jatuh sakit dan sendirian
Kira-kira siapa orang yang akan kamu kabari?
Seandainya suatu hari kamu punya ide hebat dan ingin tercapai
Kira-kira siapa orang yang akan kamu bagi tentang hal itu?
Seandainya suatu hari kamu punya hari yang besar dan penting
Kira-kira dengan siapa kamu ingin merayakannya?
Tidak apa-apa kalau tidak berkenan menjawab
Saya toh sekedar bertanya
Karena saya tahu jawabannya jelas bukan saya
Sudah lama sekali saya tidak terima kabar dari siapa-siapa
Kecuali koran, radio dan televisi
Maaf ya,
Permisi..
Boleh Tanya?
Seandainya suatu hari kamu mendapatkan suatu hal yang kamu impi-impikan
Kira-kira siapa orang yang pertama kali akan kamu kasih tau?
Seandainya suatu hari kamu jatuh sakit dan sendirian
Kira-kira siapa orang yang akan kamu kabari?
Seandainya suatu hari kamu punya ide hebat dan ingin tercapai
Kira-kira siapa orang yang akan kamu bagi tentang hal itu?
Seandainya suatu hari kamu punya hari yang besar dan penting
Kira-kira dengan siapa kamu ingin merayakannya?
Tidak apa-apa kalau tidak berkenan menjawab
Saya toh sekedar bertanya
Karena saya tahu jawabannya jelas bukan saya
Sudah lama sekali saya tidak terima kabar dari siapa-siapa
Kecuali koran, radio dan televisi
Maaf ya,
Permisi..
Friday, May 30, 2014
Tuhan Sembilan Senti
Tuhan Sembilan Senti
Karya: Taufik Ismail.
Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok, tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok.
Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,
hansip-bintara-perwira nongkrong merokok,
di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok.
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,
hansip-bintara-perwira nongkrong merokok,
di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok.
Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im sangat ramah bagi perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok.
Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
di ruang kepala sekolah…ada guru merokok,
di kampus mahasiswa merokok,
di ruang kuliah dosen merokok,
di rapat POMG orang tua murid merokok,
di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya apakah ada buku tuntunan cara merokok.
di ruang kepala sekolah…ada guru merokok,
di kampus mahasiswa merokok,
di ruang kuliah dosen merokok,
di rapat POMG orang tua murid merokok,
di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya apakah ada buku tuntunan cara merokok.
Di angkot Kijang penumpang merokok,
di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk orang bertanding merokok,
di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
di andong Yogya kusirnya merokok,
sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok.
di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk orang bertanding merokok,
di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
di andong Yogya kusirnya merokok,
sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok.
Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan para dewa-dewa bagi perokok, tapi tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok.
Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita.
Di pasar orang merokok,
di warung Tegal pengunjung merokok,
di restoran, di toko buku orang merokok,
di kafe di diskotik para pengunjung merokok.
di warung Tegal pengunjung merokok,
di restoran, di toko buku orang merokok,
di kafe di diskotik para pengunjung merokok.
Bercakap-cakap kita jarak setengah meter tak tertahankan asap rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur
ketika melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok.
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur
ketika melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok.
Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul saling menularkan HIV-AIDS sesamanya, tapi kita tidak ketularan penyakitnya. Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok di kantor atau di stop-an bus, kita ketularan penyakitnya. Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS.
Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia, dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu, bisa ketularan kena.
Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,
di apotik yang antri obat merokok,
di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
di ruang tunggu dokter pasien merokok,
dan ada juga dokter-dokter merokok.
di apotik yang antri obat merokok,
di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
di ruang tunggu dokter pasien merokok,
dan ada juga dokter-dokter merokok.
Istirahat main tenis orang merokok,
di pinggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang merokok,
pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
panitia pertandingan balap mobil, pertandingan bulutangkis, turnamen sepakbola mengemisngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok.
di pinggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang merokok,
pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
panitia pertandingan balap mobil, pertandingan bulutangkis, turnamen sepakbola mengemisngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok.
Di kamar kecil 12 meter kubik, sambil ‘ek-’ek orang goblok merokok,
di dalam lift gedung 15 tingkat dengan tak acuh orang goblok merokok,
di ruang sidang ber-AC penuh, dengan cueknya, pakai dasi, orang-orang goblok merokok.
di dalam lift gedung 15 tingkat dengan tak acuh orang goblok merokok,
di ruang sidang ber-AC penuh, dengan cueknya, pakai dasi, orang-orang goblok merokok.
Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu- na’im sangat ramah bagi orang perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok.
Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita.
Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh, duduk sejumlah ulama terhormat merujuk kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.
Mereka ulama ahli hisap.
Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
Bukan ahli hisab ilmu falak,
tapi ahli hisap rokok.
Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
Bukan ahli hisab ilmu falak,
tapi ahli hisap rokok.
Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka terselip berhala-berhala kecil, sembilan senti panjangnya, putih warnanya, kemana-mana dibawa dengan setia, satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya.
Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang, tampak kebanyakan mereka memegang rokok dengan tangan kanan, cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.
Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul yamiin dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?
Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul yamiin dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?
Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.
Mamnu’ut tadkhiin, ya ustadz. Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.
Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.
Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi al hawwa’i.
Kalau tak tahan, di luar itu sajalah merokok.
Mamnu’ut tadkhiin, ya ustadz. Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.
Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.
Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi al hawwa’i.
Kalau tak tahan, di luar itu sajalah merokok.
Laa taqtuluu anfusakum. Min fadhlik, ya ustadz.
25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan.
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi). Daging khinzir diharamkan.
4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Patutnya rokok diapakan?
25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan.
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi). Daging khinzir diharamkan.
4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Patutnya rokok diapakan?
Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz. Wa yuharrimu ‘alayhimul khabaaith.
Mohon ini direnungkan tenang-tenang, karena pada zaman Rasulullah dahulu, sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi belum ada rokok.
Mohon ini direnungkan tenang-tenang, karena pada zaman Rasulullah dahulu, sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi belum ada rokok.
Jadi ini PR untuk para ulama.
Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok, lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan, jangan.
Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok, lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan, jangan.
Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini.
Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu, yaitu ujung rokok mereka.
Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu, yaitu ujung rokok mereka.
Kini mereka berfikir. Biarkan mereka berfikir.
Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap, dan ada yang mulai terbatuk-batuk.
Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap, dan ada yang mulai terbatuk-batuk.
Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini, sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok. Korban penyakit rokok lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas.
Lebih gawat ketimbang bencana banjir, gempa bumi dan longsor, cuma setingkat di bawah korban narkoba.
Pada saat sajak ini dibacakan, berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita,
jutaan jumlahnya, bersembunyi di dalam kantong baju dan celana, dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna, diiklankan dengan indah dan cerdasnya.
jutaan jumlahnya, bersembunyi di dalam kantong baju dan celana, dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna, diiklankan dengan indah dan cerdasnya.
Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri, tidak perlu ruku’ dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini, karena orang akan khusyuk dan fana dalam nikmat lewat upacara menyalakan api dan sesajen asap tuhan-tuhan ini.
Rabbana, beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.
Rabbana, beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.
Monday, May 5, 2014
Panggilan Alam
Hari ini hari minggu
Saya rasa pukul enam pagi lebih kurang
Angka pada jam dinding terlalu samar untuk terbaca tanpa kacamata
Tetapi dua ekor burung dalam sangkar diluar jendela kamarku selalu mulai berceloteh tepat waktu
Demi embun yang berbaring pada telapak daun-daun
Juga matahari yang melaju menjemput awan-awan
Tuan dan Nona harus terbangun oleh kicau kami
Agar tak terlewat berkah Tuhan di tiap pagi setiap hari
04/05/2014
Saya rasa pukul enam pagi lebih kurang
Angka pada jam dinding terlalu samar untuk terbaca tanpa kacamata
Tetapi dua ekor burung dalam sangkar diluar jendela kamarku selalu mulai berceloteh tepat waktu
Demi embun yang berbaring pada telapak daun-daun
Juga matahari yang melaju menjemput awan-awan
Tuan dan Nona harus terbangun oleh kicau kami
Agar tak terlewat berkah Tuhan di tiap pagi setiap hari
04/05/2014
Bahagia dengan caramu mencintaiku
Yang begitu ringkas dalam kata-kata
Namun kompleks dalam rasa
Begitu kasat mata
Namun nyata kurasa
Dalam diam hatimu bicara
Dalam doa kau titip aku padaNya
Di matamu terbaca segalanya
Karena cinta bukan sekedar dibangun oleh lima huruf dalam satu kata
Tapi dari denyut nadi, darah, airmata dan harapan yang bersenyawa
Menjadi sesuatu yang disebut..
Hidup
Yang begitu ringkas dalam kata-kata
Namun kompleks dalam rasa
Begitu kasat mata
Namun nyata kurasa
Dalam diam hatimu bicara
Dalam doa kau titip aku padaNya
Di matamu terbaca segalanya
Karena cinta bukan sekedar dibangun oleh lima huruf dalam satu kata
Tapi dari denyut nadi, darah, airmata dan harapan yang bersenyawa
Menjadi sesuatu yang disebut..
Hidup
Subscribe to:
Posts (Atom)