Thursday, July 5, 2012

Karma Phala



Pernah dengar Karma?
Saya sering
Karena saya yang sering ucap :p
Banyak orang mendiskusikan soal Karma Phala atau kalau di-indonesia-kan menjadi Hukum Karma. Bahkan mereka yang berdiskusi itu bukan saja dari pemeluk Hindu, juga pemeluk agama lain. 
Biasanya mereka adalah para budayawan atau memang pengamat lintas agama.
Kalau saya?
Saya bukan dua-duanya ;D

Saya penganut agama Islam dan mengambil ajaran yang baik-baik dari kepercayaan manapun, asal logis dan tidak bertentangan dengan agama yang saya anut 
dan alam yang saya tinggali, why not?

Apakah Hukum Karma itu sebuah kebudayaan? 
Barangkali ya, karena agama itu sendiri juga tak bisa lepas dari budaya, tergantung sudut pandang kita. 
Kalau bagi umat Hindu, Karma Phala itu sebuah ajaran agama, yang memang harus diyakini sepenuhnya. 
Karma Phala adalah satu dari lima dasar ajaran Hindu yang kalau hal itu tidak diyakini maka mereka bukanlah pemeluk Hindu. Kelima dasar itu disebut Panca Srada. (Kalau di ajaran Islam mirip-mirip rukun Islam ama rukun Iman kali yah?)
Saya merujuk dari blog tetangga,
Seseorang yang mulai memeluk agama Hindu, diharuskan melakukan upacara yang disebut Sudhi Wadani yang dipimpin oleh seorang pendeta Hindu (Sulinggih), dalam keadaan terpaksa tak ada Sulinggih di tempat itu bisa dipimpin oleh Pemangku (Pinandita). 
Dalam ritual inilah Panca Srada harus disebutkan, kalau dianalogikan dalam Islam, semacam pengucapan kalimat Syahadat. 
Panca Srada itu adalah 
(1) Percaya adanya Brahman (Tuhan Yang Maha Esa), 
(2) Percaya adanya Atman (jiwa/roh), 
(3) Percaya adanya Karma Phala (hasil dari perbuatan), 
(4)  Percaya adanya Phunarbawa (reinkarnasi atau kelahiran yang berulang-ulang), 
(5) Percaya adanya Moksa (bersatunya Brahman dan Atman atau kedamaian yang abadi).
Tapi upacara Sudhi Wadani tidak diperlukan jika anak itu lahir dari keluarga atau pasangan yang sudah beragama Hindu.

Nah, jika berbicara soal Karma Phala atau Hukum Karma, bagaimana mungkin seseorang akan meyakini hal itu jika dia tidak yakin akan adanya Phunarbawa atau reinkarnasi? 
Kelima dasar ajaran itu itu tak bisa dipisahkan, semuanya menyatu. Apalagi Hukum Karma sangat berkaitan dengan reinkarnasi, karena karma itu melekat pada jiwa atau roh seseorang yang selalu dibawa dalam kehidupannya yang berulang terus-menerus.
Kemudian...bagaimana bisa orang yang tidak berkeyakinan Hindu, yang tak percaya adanya reinkarnasi, moksa dan sebagainya, memperdebatkan masalah karma? 
Tapi, dalam dunia yang terbuka ini, pertanyaan itu menjadi tak penting, mungkin saja karma disoroti dari sisi yang “bukan keyakinan Hindu”.

Apa itu karma? Segala gerak atau aktivitas yang dilakukan, disengaja atau tidak, baik atau buruk, benar atau salah, disadari atau di luar kesadaran, kesemuanya itu disebut karma. (Langsung teringat buku "Kumpulan Hikayat dari Timur" oleh Maharaj Sawan Singh, didalamnya ada bab yang berjudul "Karma yang tidak disengaja, adalah tetap Karma").
Kata karma berasal dari kata "kr" (bahasa sansekerta), yang  artinya bergerak atau berbuat. Menurut Hukum Sebab Akibat,  maka segala sebab pasti akan membuat akibat. Demikianlah sebab dari suatu gerak atau perbuatan akan menimbulkan akibat, buah, hasil atau pahala. Hukum sebab akibat inilah yang disebut dengan Karma Phala atau Hukum Karma.
Di dalam Kitab Suci Weda disebutkan: "Karma phala ika palaing gawe hala ayu", artinya karma phala adalah akibat phala dari baik buruk suatu perbuatan atau karma (Clokantra 68).
Hukum karma ini sangat berpengaruh terhadap baik buruknya segala mahluk sesuai dengan perbuatan baik dan perbuatan buruknya yang dilakukan semasa hidup. Hukum karma dapat menentukan seseorang itu hidup bahagia atau menderita lahir bathin. Jadi setiap orang berbuat baik, pasti akan menerima hasil dari perbuatan baiknya itu. Demikian pula sebaliknya, setiap yang berbuat buruk, maka keburukan itu sendiri tidak bisa terelakkan dan pasti akan diterima.
Phala atau hasil dari perbuatan itu tidak selalu langsung dapat dirasakan atau dinikmati.  Ada yang dirasakan seketika, ada yang kemudian hari, ada yang jauh lagi yakni dalam kehidupan yang akan datang. (Jadi harus percaya adanya reinkarnasi). Bahkan karma kita di masa kehidupan yang lalu, bisa pula pahalanya diterima dalam kehidupan di masa kini.

Ada tiga kategori Karma Phala:
1. Sancita Karma Phala:
 Hasil perbuatan kita dalam kehidupan terdahulu yang belum habis pahalanya dinikmati dan masih merupakan sisa yang menentukan kehidupan kita sekarang. Contoh, di kehidupan yang lalu, mungkin kita korupsi milyaran rupiah, namun karena sedang berkuasa atau pinter berkelit, pahalanya belum sempat dinikmati. Sekaranglah kita mendapatkan buahnya, misalnya, hidup jadi sengsara, atau menjadi perampok sehingga dihukum penjara.
(Kalau Karma Phala yang ini..mm...belum masuk ke logika saya sepertinya)

2. Prarabda Karma Phala:
 Hasil perbuatan kita pada kehidupan sekarang yang pahalanya diterima habis dalam kehidupan sekarang juga. Sekarang korupsi, kemudian tertangkap langsung dihukum bertahun-tahun. Jadi antara perbuatan dan akibatnya lunas.
(Kalau Karma Phala yang ini, saya rasa banyak orang yang satu pikiran)

3. Kriyamana Karma Phala:
 Hasil perbuatan yang tidak sempat dinikmati pada saat berbuat, sehingga harus diterima pada kehidupan yang akan datang. Misalnya, dalam kehidupan sekarang korupsi, tapi entah bagaimana tak berhasil dibuktikan karena kelicikan kita, lalu meninggal dunia. Dalam kehidupan yang akan datang pahalanya baru diterima. Kita jadi orang yang hina. Sebaliknya, dalam kehidupan sekarang kita berbuat baik, saleh, santun, taat pada keyakinan, suka menolong dan sebagainya, namun kita meninggal dunia dalam kesederhanaan itu. Dalam kehidupan yang akan datang, kita dilahirkan menjadi orang yang bahagia, atau dilahirkan di keluarga orang terhormat dan kaya, di mana tak ada penderitaan yang dialami.
(Logika sederhana saya sih, orang yang baik, beriman dan bertaqwa ya imbalannya surga. Orang yang jahat, tidak pernah beribadah atau suka mendzolimi orang ya ganjarannya neraka. Intinya berbuat baiklah selama di dunia. Beda tipis lahh...hehehehe :D )

Ada perdebatan di Twitter, apakah seorang ayah yang ber-karma buruk atau baik, akan berpengaruh kepada anaknya yang akan lahir atau sudah lahir? Artinya, apakah karma bisa diwariskan atau diturunkan dari orang tua ke anak? Jawabnya : tidak.
Karma tak bisa diwariskan atau diturunkan. Karma adalah bawaan individu, yang melekat seterusnya. Memperbaiki karma harus dilakukan oleh orang yang bersangkutan. Kalau sadar berkarma buruk, perbaikilah agar menjadi baik (taubat yeuh...), kalau pun kebaikan itu tak bisa diterima dalam kehidupan ini, dalam kehidupan yang akan datang pasti tiba. 
Nah, berhubung saya ndak percaya reinkarnasi, saya serap ilmu ini dari sudut pandang agama yang saya anut saja. Kalau sudah taubat tapi nasib tidak membaik, niscaya niat baik untuk taubatnya ikut diperhitungkan di alam barzah. Azabnya jadi ngga pedih-pedih amat gituhh :P )

Lalu bagaimana bisa seorang anak yang baru lahir tiba-tiba punya penyakit yang sama dengan orang tuanya? (Ini satu pertanyaan lagi di Twitter). 
Soal penyakit, tentu harus dilihat apakah itu ada unsur bawaan atau keturunan, jadi yang berbicara di sini adalah soal medis, karena banyak penyakit turunan. Jika dikaitkan dengan karma, maka si anak itu mungkin dalam kehidupannya di masa lalu punya karma buruk yang belum tuntas dilunasi, sehingga Brahman (Tuhan atau Hyang Widhi) menentukan mereka lahir pada ayah yang sakit itu.
Sebaliknya, kok ada anak yang lahir langsung bahagia, tak perlu bekerja keras, harta keluarganya melimpah. Ini adalah karma sang anak itu, tak ada kaitan dengan karma orang tuanya. Mungkin anak itu di kehidupannya yang lalu sangat menderita, tetapi penuh kebajikan, tak pernah mencuri, taat menjalankan perintah agama, pokoknya menjadi anak yang saleh dan sukhinah, anak yang suputra. Nah, karena di masa kehidupan yang lalu pahala kebaikan itu belum diterima, sekaranglah dia terima. Terserah sekarang, kalau harta melimpah itu digunakan untuk foya-foya dan mabuk-mabukan, terjerat narkoba misalnya, ia pasti akan sengsara di kemudian hari. Kalau tidak dihukum penjara pada kehidupan sekarang, pada kehidupan mendatanglah ia kembali jadi orang sengsara.

Kesimpulan dari ajaran ini,  karma phala sejatinya adalah ajaran untuk memperbaiki kehidupan yang terus-menerus berulang. Karena itu dalam kitab Sarasamuccaya disebutkan, berbahagialah hidup sebagai manusia, mahkluk paling mulia ciptaan Tuhan, karena dengan menjadi manusia kita bisa memperbaiki derajat kehidupan ini.

Kesimpulan saya, sederhana, hiduplah yang baik dengan tujuan, cara dan usaha yang baik dengan mengharapkan hasil yang baik. Kalaupun belum mendapatkan hasil yang baik di dunia, jangan menjadikan kita merasa sia-sia karena sudah melakukan kebaikan itu. Mungkin nanti, di akhirat, baru akan kita terima hasil panennya.

hmm... कर्म

yuk ah..jadi orang baik.
salam metal \m/
;D

referensi : kumpulan hikayat dari timur (by Maharaj Sawan Singh) ; m.mpujayaprema.com (by Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda).

No comments:

Post a Comment