Pernah dengar Karma?
Saya sering
Karena saya yang sering ucap :p
Saya sering
Karena saya yang sering ucap :p
Banyak orang mendiskusikan soal Karma Phala atau kalau di-indonesia-kan
menjadi Hukum Karma. Bahkan mereka yang berdiskusi itu bukan saja dari
pemeluk Hindu, juga pemeluk agama lain.
Biasanya mereka adalah para
budayawan atau memang pengamat lintas agama.
Kalau saya?
Saya bukan dua-duanya ;D
Saya penganut agama Islam dan mengambil ajaran yang baik-baik dari kepercayaan manapun, asal logis dan tidak bertentangan dengan agama yang saya anut
dan alam yang saya tinggali, why not?
Apakah Hukum Karma itu sebuah kebudayaan?
Barangkali ya, karena agama itu
sendiri juga tak bisa lepas dari budaya, tergantung sudut pandang kita.
Kalau bagi umat Hindu, Karma Phala itu sebuah ajaran agama, yang memang
harus diyakini sepenuhnya.
Karma Phala adalah satu dari lima dasar
ajaran Hindu yang kalau hal itu tidak diyakini maka mereka bukanlah
pemeluk Hindu. Kelima dasar itu disebut Panca Srada. (Kalau di ajaran Islam mirip-mirip rukun Islam ama rukun Iman kali yah?)
Saya merujuk dari blog tetangga,
Seseorang yang mulai memeluk agama Hindu, diharuskan melakukan upacara
yang disebut Sudhi Wadani yang dipimpin oleh seorang pendeta Hindu
(Sulinggih), dalam keadaan terpaksa tak ada Sulinggih di tempat itu bisa
dipimpin oleh Pemangku (Pinandita).
Dalam ritual inilah Panca Srada
harus disebutkan, kalau dianalogikan dalam Islam, semacam pengucapan
kalimat Syahadat.
Panca Srada itu adalah
(1) Percaya adanya Brahman
(Tuhan Yang Maha Esa),
(2) Percaya adanya Atman (jiwa/roh),
(3) Percaya
adanya Karma Phala (hasil dari perbuatan),
(4) Percaya adanya
Phunarbawa (reinkarnasi atau kelahiran yang berulang-ulang),
(5) Percaya
adanya Moksa (bersatunya Brahman dan Atman atau kedamaian yang abadi).
Tapi upacara Sudhi Wadani tidak diperlukan jika anak itu lahir dari keluarga atau pasangan yang sudah beragama Hindu.
Nah, jika berbicara soal Karma Phala atau Hukum Karma, bagaimana
mungkin seseorang akan meyakini hal itu jika dia tidak yakin akan adanya
Phunarbawa atau reinkarnasi?
Kelima dasar ajaran itu itu tak bisa
dipisahkan, semuanya menyatu. Apalagi Hukum Karma sangat berkaitan
dengan reinkarnasi, karena karma itu melekat pada jiwa atau roh
seseorang yang selalu dibawa dalam kehidupannya yang berulang
terus-menerus.
Kemudian...bagaimana bisa orang yang
tidak berkeyakinan Hindu, yang tak percaya adanya reinkarnasi, moksa
dan sebagainya, memperdebatkan masalah karma?
Tapi, dalam dunia yang
terbuka ini, pertanyaan itu menjadi tak penting, mungkin saja karma
disoroti dari sisi yang “bukan keyakinan Hindu”.
Apa itu karma? Segala gerak atau aktivitas yang dilakukan, disengaja
atau tidak, baik atau buruk, benar atau salah, disadari atau di luar
kesadaran, kesemuanya itu disebut karma. (Langsung teringat buku "Kumpulan Hikayat dari Timur" oleh Maharaj Sawan Singh, didalamnya ada bab yang berjudul "Karma yang tidak disengaja, adalah tetap Karma").
Kata karma berasal dari kata
"kr" (bahasa sansekerta), yang artinya bergerak atau berbuat. Menurut
Hukum Sebab Akibat, maka segala sebab pasti akan membuat akibat.
Demikianlah sebab dari suatu gerak atau perbuatan akan menimbulkan
akibat, buah, hasil atau pahala. Hukum sebab akibat inilah yang disebut
dengan Karma Phala atau Hukum Karma.
Di dalam Kitab Suci Weda disebutkan: "Karma phala ika palaing gawe hala
ayu", artinya karma phala adalah akibat phala dari baik buruk suatu
perbuatan atau karma (Clokantra 68).
Hukum karma ini sangat berpengaruh terhadap baik buruknya segala mahluk
sesuai dengan perbuatan baik dan perbuatan buruknya yang dilakukan
semasa hidup. Hukum karma dapat menentukan seseorang itu hidup bahagia
atau menderita lahir bathin. Jadi setiap orang berbuat baik, pasti akan
menerima hasil dari perbuatan baiknya itu. Demikian pula sebaliknya,
setiap yang berbuat buruk, maka keburukan itu sendiri tidak bisa
terelakkan dan pasti akan diterima.
Phala atau hasil dari perbuatan itu tidak selalu langsung dapat
dirasakan atau dinikmati. Ada yang dirasakan seketika, ada yang
kemudian hari, ada yang jauh lagi yakni dalam kehidupan yang akan
datang. (Jadi harus percaya adanya reinkarnasi). Bahkan karma kita di
masa kehidupan yang lalu, bisa pula pahalanya diterima dalam kehidupan
di masa kini.
Ada tiga kategori Karma Phala:
1. Sancita Karma Phala:
Hasil perbuatan kita dalam kehidupan terdahulu yang belum habis pahalanya dinikmati dan masih merupakan sisa yang menentukan kehidupan kita sekarang. Contoh, di kehidupan yang lalu, mungkin kita korupsi milyaran rupiah, namun karena sedang berkuasa atau pinter berkelit, pahalanya belum sempat dinikmati. Sekaranglah kita mendapatkan buahnya, misalnya, hidup jadi sengsara, atau menjadi perampok sehingga dihukum penjara.
(Kalau Karma Phala yang ini..mm...belum masuk ke logika saya sepertinya)
Hasil perbuatan kita dalam kehidupan terdahulu yang belum habis pahalanya dinikmati dan masih merupakan sisa yang menentukan kehidupan kita sekarang. Contoh, di kehidupan yang lalu, mungkin kita korupsi milyaran rupiah, namun karena sedang berkuasa atau pinter berkelit, pahalanya belum sempat dinikmati. Sekaranglah kita mendapatkan buahnya, misalnya, hidup jadi sengsara, atau menjadi perampok sehingga dihukum penjara.
(Kalau Karma Phala yang ini..mm...belum masuk ke logika saya sepertinya)
2. Prarabda Karma Phala:
Hasil perbuatan kita pada kehidupan sekarang yang pahalanya diterima habis dalam kehidupan sekarang juga. Sekarang korupsi, kemudian tertangkap langsung dihukum bertahun-tahun. Jadi antara perbuatan dan akibatnya lunas.
(Kalau Karma Phala yang ini, saya rasa banyak orang yang satu pikiran)
3. Kriyamana Karma Phala:
Hasil perbuatan yang tidak sempat dinikmati pada saat berbuat, sehingga harus diterima pada kehidupan yang akan datang. Misalnya, dalam kehidupan sekarang korupsi, tapi entah bagaimana tak berhasil dibuktikan karena kelicikan kita, lalu meninggal dunia. Dalam kehidupan yang akan datang pahalanya baru diterima. Kita jadi orang yang hina. Sebaliknya, dalam kehidupan sekarang kita berbuat baik, saleh, santun, taat pada keyakinan, suka menolong dan sebagainya, namun kita meninggal dunia dalam kesederhanaan itu. Dalam kehidupan yang akan datang, kita dilahirkan menjadi orang yang bahagia, atau dilahirkan di keluarga orang terhormat dan kaya, di mana tak ada penderitaan yang dialami.
3. Kriyamana Karma Phala:
Hasil perbuatan yang tidak sempat dinikmati pada saat berbuat, sehingga harus diterima pada kehidupan yang akan datang. Misalnya, dalam kehidupan sekarang korupsi, tapi entah bagaimana tak berhasil dibuktikan karena kelicikan kita, lalu meninggal dunia. Dalam kehidupan yang akan datang pahalanya baru diterima. Kita jadi orang yang hina. Sebaliknya, dalam kehidupan sekarang kita berbuat baik, saleh, santun, taat pada keyakinan, suka menolong dan sebagainya, namun kita meninggal dunia dalam kesederhanaan itu. Dalam kehidupan yang akan datang, kita dilahirkan menjadi orang yang bahagia, atau dilahirkan di keluarga orang terhormat dan kaya, di mana tak ada penderitaan yang dialami.
(Logika sederhana saya sih, orang yang baik, beriman dan bertaqwa ya imbalannya surga. Orang yang jahat, tidak pernah beribadah atau suka mendzolimi orang ya ganjarannya neraka. Intinya berbuat baiklah selama di dunia. Beda tipis lahh...hehehehe :D )
Ada perdebatan di Twitter, apakah seorang ayah yang ber-karma buruk
atau baik, akan berpengaruh kepada anaknya yang akan lahir atau sudah
lahir? Artinya, apakah karma bisa diwariskan atau diturunkan dari orang
tua ke anak? Jawabnya : tidak.
Karma tak bisa diwariskan atau diturunkan. Karma adalah bawaan
individu, yang melekat seterusnya. Memperbaiki karma harus dilakukan
oleh orang yang bersangkutan. Kalau sadar berkarma buruk, perbaikilah
agar menjadi baik (taubat yeuh...), kalau pun kebaikan itu tak bisa diterima dalam
kehidupan ini, dalam kehidupan yang akan datang pasti tiba.
Nah, berhubung saya ndak percaya reinkarnasi, saya serap ilmu ini dari sudut pandang agama yang saya anut saja. Kalau sudah taubat tapi nasib tidak membaik, niscaya niat baik untuk taubatnya ikut diperhitungkan di alam barzah. Azabnya jadi ngga pedih-pedih amat gituhh :P )
Lalu bagaimana bisa seorang anak yang baru lahir tiba-tiba punya
penyakit yang sama dengan orang tuanya? (Ini satu pertanyaan lagi di
Twitter).
Soal penyakit, tentu harus dilihat apakah itu ada unsur bawaan
atau keturunan, jadi yang berbicara di sini adalah soal medis, karena
banyak penyakit turunan. Jika dikaitkan dengan karma, maka si anak itu
mungkin dalam kehidupannya di masa lalu punya karma buruk yang belum
tuntas dilunasi, sehingga Brahman (Tuhan atau Hyang Widhi) menentukan
mereka lahir pada ayah yang sakit itu.
Sebaliknya, kok ada anak yang lahir langsung bahagia, tak perlu bekerja
keras, harta keluarganya melimpah. Ini adalah karma sang anak itu, tak
ada kaitan dengan karma orang tuanya. Mungkin anak itu di kehidupannya
yang lalu sangat menderita, tetapi penuh kebajikan, tak pernah mencuri,
taat menjalankan perintah agama, pokoknya menjadi anak yang saleh dan
sukhinah, anak yang suputra. Nah, karena di masa kehidupan yang lalu
pahala kebaikan itu belum diterima, sekaranglah dia terima. Terserah
sekarang, kalau harta melimpah itu digunakan untuk foya-foya dan
mabuk-mabukan, terjerat narkoba misalnya, ia pasti akan sengsara di
kemudian hari. Kalau tidak dihukum penjara pada kehidupan sekarang, pada
kehidupan mendatanglah ia kembali jadi orang sengsara.
Kesimpulan dari ajaran ini, karma phala sejatinya adalah ajaran untuk
memperbaiki kehidupan yang terus-menerus berulang. Karena itu dalam
kitab Sarasamuccaya disebutkan, berbahagialah hidup sebagai manusia,
mahkluk paling mulia ciptaan Tuhan, karena dengan menjadi manusia kita
bisa memperbaiki derajat kehidupan ini.
Kesimpulan saya, sederhana, hiduplah yang baik dengan tujuan, cara dan usaha yang baik dengan mengharapkan hasil yang baik. Kalaupun belum mendapatkan hasil yang baik di dunia, jangan menjadikan kita merasa sia-sia karena sudah melakukan kebaikan itu. Mungkin nanti, di akhirat, baru akan kita terima hasil panennya.
hmm... कर्म
yuk ah..jadi orang baik.
salam metal \m/
;D
referensi : kumpulan hikayat dari timur (by Maharaj Sawan Singh) ; m.mpujayaprema.com (by Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda).
